Demokrasi Digital


Gambar terkait
Apa itu demokrasi digital?
Demokrasi digital secara sederhana adalah aktivitas politik yang menggunakan saluran digital, terutama web 2.0, sebagai bentuk partisipasi politik atau penggalangan dukungan publik 
(Wilhem, 2003).

Demokrasi digital memiliki beberapa sifat di antaranya adalah: sifatnya yang interaktif; proses interaktif mengandaikan adanya komunikasi yang bersifat resiprokalitas, semua warga negara bisa berdialog secara interaktif.

Lalu lewat demokrasi digital juga dijamin Kebebasan berbicara; sehingga pengguna internet atau teknologi informasi dapat mengekspresikan dirinya tanpa kontrol yang signifikan dari penguasa. Setiap warga negara misalnya bisa secara diskursif mengetengahkan gagasan-gagasannya yang paling gila sekalipun. Selain itu terbentuknya komunitas virtual yang peduli terhadap kepentingan publik dan komunikasi global yang tidak terbatas pada satu negara-bangsa. Lewat demokrasi digital juga informasi atau kajian politik dapat diproduksi secara bebas dan disebarkan ke ruang publik virtual untuk diuji.

Contoh Kasus Elektronic Votes in Haiti dari Ruang Publik dalam Demokrasi di Era Digital
Tingkat partisipasi pemilihan Haiti yang rendah bulan Oktober 2016 lalu, dikarenakan kurangnya pemilih yang memenuhi syarat berpartisipasi. Sementara biaya penyelenggaraan pemilu telah naik lebih dari 400% dalam 25 tahun. E-Vote dianggap dapat mengatasi hal ini. Dengan e-Vote dapat menghemat uang karena tidak perlu mencetak dan mengangkut jutaan surat suara pemilihan, serta waktu pemrosesan juga akan jauh lebih pendek. 

Salah satu opsi adalah penggunaan teknologi ponsel. Walaupun ini tampak menarik karena jangkauan telepon seluler, kemungkinan akan menciptakan kekhawatiran baru tentang hasilnya, karena akan relatif sulit untuk memverifikasi identitas pemilih. 

Opsi yang lainnya adalah menggunakan Mesin Voting Elektronik. Ini akan lebih 'tradisional' daripada menggunakan ponsel karena pemilih masih harus pergi ke kantor pemungutan suara. Mesin pemungutan suara elektronik akan dihubungkan ke server regional atau nasional. Inovasinya adalah bahwa mesin dapat dikonfigurasikan dengan sistem verifikasi ganda menggunakan nomor ID pemilih dan sidik jari, membatasi kecurangan suara dan penyimpangan. Biaya mesin ini akan menelan biaya sekitar US $ 17 juta.  Uang yang dihabiskan akan membuat pemilihan Haiti lebih efisien. Sistem e-voting ini diperkirakan menghemat sekitar US $ 18 juta dalam pengeluaran.

Secara total, dapat disimpulkan bahwa manfaat dari penerapan sistem pemungutan suara elektronik akan menjadi 5,3 kali lebih tinggi daripada biaya. Pengalaman menunjukkan bahwa beralih ke pemungutan suara elektronik dapat memakan waktu sekitar sepuluh tahun, dari saat uji coba hingga perombakan total sistem. Kita juga perlu mengingat bahwa pemungutan suara manual hari ini menyediakan sekitar 50.000 pekerjaan jangka pendek. Dengan beralih ke pemungutan suara elektronik, banyak dari pekerjaan itu akan hilang. Pemungutan suara elektronik lebih efisien dan biayanya lebih murah daripada sistem saat ini. 

Ini lebih transparan dan dapat diandalkan dan mungkin dapat membuka jalan untuk mendigitalkan administrasi publik dan pemerintahan di seluruh Haiti. Masih ada dua pertanyaan besar: haruskah itu menjadi prioritas utama bagi Haiti daripada investasi lain yang dapat memperkuat demokrasi dan institusi? Dan apakah pemungutan suara elektronik cukup untuk membangun kembali kepercayaan pemilih Haiti? Apa pun metode pemilihannya, kepercayaan hanya dapat dibangun dari waktu ke waktu.

Sumber:
https://fitriafrilinda.wordpress.com/2011/01/11/demokrasi-digital/
https://www.huffingtonpost.com/entry/e-voting-improving-the-election-process_us_58c91e36e4b05675ee9c5bce

Komentar